Kamis, 15 Maret 2012

Teknik Pengambilan Gambar Produksi

pengambilan-gambar 
Teknik Pengambilan Gambar

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan perangkat kamera. Sebelum melakukan shooting ada baiknya jika seorang juru kamera persiapan-persiapan sebagai berikut:
  • ·Penguasaan terhadap perangkat kamera yang akan digunakan. Sebaiknya mengikuti aturan penggunaan yang tertulis pada manual book. Pahami kelebihan dan kekurangannya.
  • Setelah paham dengan seluk beluk kamera, pahami juga adegan apa dan teknik yang bagaimana yang diinginkan.
  • Membuat breakdown peralatan yang akan digunakan seperti baterai, mikrofon, kabel extension, dll.
  • Pastikan baterai dalam kondisi prima dan penuh, dan semua fasilitas di kamera berjalan dengan baik.

Dalam kegiatan produksi video/ film, terdapat banyak jenis kamera yang digunakan. Pembagian jenis kamera video/ film dibedakan atas media yang digunakan untuk menyimpan data (gambar & suara) yang telah diambil.

Seperti halnya pada fotografi, gambar yang telah diambil disimpan pada gulungan film. Namun pada kamera jenis ini, disamping gulungan film juga terdapat pita magnetik untuk menyimpan data suara. Dalam 1 detik pengambilan gambar, dibutuhkan sekitar 30 frame film. Adapun jenis film yang digunakan adalah film positif (slide), dimana untuk melihat isinya harus dicuci terlebih dulu di laboratorium film dan diproyeksikan dengan menggunakan proyektor khusus.

Kamera jenis ini menyimpan data gambar dan suara pada pita magnetik. Secara umum terdapat 2 jenis kamera :
Analog (AV)
Data yang disimpan sebagai pancaran berbagai kuat sinyal (gelombang) pada pita kamera perekam. Macam kamera jenis ini antara lain VHS, S – VHS, 8mm, dan Hi – 8.
Digital (DV)
Kamera perekam video digital menyimpan data dalam format kode biner bit per bit yang terdiri atas rangkaian 1 (on) dan 0 (off). Jenis kamera ini antara lain mini DV, dan Digital 8.

teknik-peng_gambar-1

Secara umum bagian-bagian kamera video terdiri atas :
1. Baterai untuk catu daya
2. Tempat kaset
3. Tombol Zoom
4. Tombol Recorder
5. Port Output video / audio (bisa berupa analog ataupun digital)
6. Cincin Fokus
7. Jendela preview (View Fender)
8. Mikrofon
9. Tombol kontrol cahaya
10. Tombol Player (untuk memainkan kembali video).
11. Terminal DC Input.
Selain itu juga banyak terdapat fasilitas–fasilitas tambahan yang berbeda antara kamera satu dengan kamera lainnya. Fasilitas itu antara lain lampu infra merah untuk pengambilan gambar pada tempat yang gelap, edit teks langsung dari kamera, efek-efek video lain, slow motion dan masih banyak lagi.

Pengambilan gambar terhadap suatu objek dapat dilakukan dengan lima cara:
· Bird Eye View
Teknik pengambilan gambar yang dilakukan dengan ketinggian kamera berada di atas ketinggian objek. Hasilnya akan terlihat lingkungan yang luas dan benda-benda lain tampak kecil dan berserakan.
· High Angle
Sudut pengambilan dari atas objek sehingga mengesankan objek jadi terlihat kecil. Teknik ini memiliki kesan dramatis yaitu nilai “kerdil”.
· Low Angle
Sudut pengambilan dari arah bawah objek sehingga mengesankan objek jadi terlihat besar. Teknik ini memiliki kesan dramatis yaitu nilai agung/ prominance, berwibawa, kuat, dominan.
· Eye Level
Sudut pengambilan gambar sejajar dengan objek. Hasilnya memperlihatkan tangkapan pandangan mata seseorang. Teknik ini tidak memiliki kesan dramatis melainkan kesan wajar.
· Frog Eye
Sudut pengambilan gambar dengan ketinggian kamera sejajar dengan alas/dasar kedudukan objek atau lebih rendah. Hasilnya akan tampak seolah-olah mata penonton mewakili mata katak.

Ukuran gambar biasanya dikaitkan dengan tujuan pengambilan gambar, tingkat emosi, situasi dan kodisi objek. Terdapat bermacam-macam istilah antara lain:
· Extreme Close Up (ECU/XCU) : pengambilan gambar yang terlihat sangat detail seperti hidung pemain atau bibir atau ujung tumit dari sepatu.
· Big Close Up (BCU) : pengambilan gambar dari sebatas kepala hingga dagu.
· Close Up (CU) : gambar diambil dari jarak dekat, hanya sebagian dari objek yang terlihat seperti hanya mukanya saja atau sepasang kaki yang bersepatu baru
· Medium Close Up : (MCU) hampir sama dengan MS, jika objeknya orang dan diambil dari dada keatas.
· Medium Shot (MS) : pengambilan dari jarak sedang, jika objeknya orang maka yang terlihat hanya separuh badannya saja (dari perut/pinggang keatas).
· Knee Shot (KS) : pengambilan gambar objek dari kepala hingga lutut.
· Full Shot (FS) : pengambilan gambar objek secara penuh dari kepala sampai kaki.
· Long Shot (LS) : pengambilan secara keseluruhan. Gambar diambil dari jarak jauh, seluruh objek terkena hingga latar belakang objek.
· Medium Long Shot (MLS) : gambar diambil dari jarak yang wajar, sehingga jika misalnya terdapat 3 objek maka seluruhnya akan terlihat. Bila objeknya satu orang maka tampak dari kepala sampai lutut.
· Extreme Long Shot (XLS): gambar diambil dari jarak sangat jauh, yang ditonjolkan bukan objek lagi tetapi latar belakangnya. Dengan demikian dapat diketahui posisi objek tersebut terhadap lingkungannya.
· One Shot (1S) : Pengambilan gambar satu objek.
· Two Shot (2S) : pengambilan gambar dua orang.
· Three Shot (3S) : pengambilan gambar tiga orang.
· Group Shot (GS): pengambilan gambar sekelompok orang.

Gerakan kamera akan menghasilkan gambar yang berbeda. Oleh karenanya maka dibedakan dengan istilah-istilah sebagai berikut:
· Zoom In/ Zoom Out : kamera bergerak menjauh dan mendekati objek dengan menggunakan tombol zooming yang ada di kamera.
· Panning : gerakan kamera menoleh ke kiri dan ke kanan dari atas tripod.
· Tilting : gerakan kamera ke atas dan ke bawah. Tilt Up jika kamera mendongak dan tilt down jika kamera mengangguk.
· Dolly : kedudukan kamera di tripod dan di atas landasan rodanya. Dolly In jika bergerak maju dan Dolly Out jika bergerak menjauh.
· Follow : gerakan kamera mengikuti objek yang bergerak.
· Crane shot : gerakan kamera yang dipasang di atas roda crane.
· Fading : pergantian gambar secara perlahan. Fade in jika gambar muncul dan fade out jika gambar menghilang serta cross fade jika gambar 1 dan 2 saling menggantikan secara bersamaan.
· Framing : objek berada dalam framing Shot. Frame In jika memasuki bingkai dan frame out jika keluar bingkai.

Teknik pengambilan gambar tanpa menggerakkan kamera, jadi cukup objek yang bergerak.
· Objek bergerak sejajar dengan kamera.
· Walk In : Objek bergerak mendekati kamera.
· Walk Away : Objek bergerak menjauhi kamera.

Teknik ini dikatakan lain karena tidak hanya mengandalkan sudut pengambilan, ukuran gambar, gerakan kamera dan objek tetapi juga unsur- unsur lain seperti cahaya, properti dan lingkungan. Rata-rata pengambilan gambar dengan menggunakan teknik-teknik ini menghasilkan kesan lebih dramatik.
· Backlight Shot: teknik pengambilan gambar terhadap objek dengan pencahayaan dari belakang.
· Reflection Shot: teknik pengambilan yang tidak diarahkan langsung ke objeknya tetapi dari cermin/air yang dapat memantulkan bayangan objek.
· Door Frame Shot: gambar diambil dari luar pintu sedangkan adegan ada di dalam ruangan.
· Artificial Framing Shot: benda misalnya daun atau ranting diletakkan di depan kamera sehingga seolah-olah objek diambil dari balik ranting tersebut.
· Jaws Shot: kamera menyorot objek yang seolah-olah kaget melihat kamera.
· Framing with Background: objek tetap fokus di depan namun latar belakang dimunculkan sehingga ada kesan indah.
· The Secret of Foreground Framing Shot: pengambilan objek yang berada di depan sampai latar belakang sehingga menjadi perpaduan adegan.
· Tripod Transition: posisi kamera berada diatas tripod dan beralih dari objek satu ke objek lain secara cepat.
· Artificial Hairlight: rambut objek diberi efek cahaya buatan sehingga bersinar dan lebih dramatik.
· Fast Road Effect: teknik yang diambil dari dalam mobil yang sedang melaju kencang.
· Walking Shot: teknik ini mengambil gambar pada objek yang sedang berjalan. Biasanya digunakan untuk menunjukkan orang yang sedang berjalan terburu-buru atau dikejar sesuatu.
· Over Shoulder : pengambilan gambar dari belakang objek, biasanya objek tersebut hanya terlihat kepala atau bahunya saja. Pengambilan ini untuk memperlihatkan bahwa objek sedang melihat sesuatu atau bisa juga objek sedang bercakap-cakap.
· Profil Shot : jika dua orang sedang berdialog, tetapi pengambilan gambarnya dari samping, kamera satu memperlihatkan orang pertama dan kamera dua memperlihatkan orang kedua.

Pustaka

  • ·Baksin, Askurifai. 2003. Membuat Film Indie itu Gampang. Bandung: Katarsis.
  • · Bawantara, Agung. 2005. Panduan Membuat Video Keluarga (Membuat Story Board/Story Line, Teknik Syuting, Teknik Editing, Teknik Mengisi Suara). Jakarta: Kawan Putaka.
  • · Widagdo, M Bayu & Gora S, Winastwan. 2004. Bikin Sendiri Film Kamu (Panduan Produksi Film Indonesia). Yogyakarta: PD. Anindya.
Selengkapnya... »»  

Film Sebagai Karya Seni

insomniafilmfest1
Saat ini film telah diakui sebagai karya seni, namun tidak demikian pada awal munculnya. Meskipun pada saat kelahirannya film sangat populer, tetapi pengakuan masyarakat pada nilai artistik film masih belum terlihat. 

Jika kita benar-benar ingin memahami film, maka kita harus mengetahui aspek-aspek pembangun dari sebuah film. Seperti karya seni lainnya, film juga memiliki sifat-sifat dasar dari sebuah karya seni pahat seperti garis, susunan, warna, bentuk, volume, dan massa. Seperti drama, film melakukan komunikasi visual melalui laku dramatik, gerak dan ekspresi dan komunikasi verbal melalui dialog. Seperti musik, film mempergunakan irama yang kompleks dan halus. Seperti puisi, film berkomunikasi melalui citra dan metafora juga lambang-lambang. Seperti pantomim, film memusatkan diri pada gambar bergerak, dan seperti tari, gambar bergerak pada film memiliki sifat-sifat ritmis tertentu. Seperti novel, film memiliki kesanggupan untuk memainkan ruang dan waktu.
Selain banyak persamaan dengan karya seni lain, film juga memiliki perbedaan yang merupakan nilai lebih dari karya seni lain. Film dapat bergerak bebas dan tetap sehingga mampu mengatasi keterbatasan statis dari sebuah karya lukis dan pahat. Film memiliki kemampuan mengambil sudut pandang, gerak, waktu yang beragam yang tidak dapat dilakukan dengan seni drama panggung. Berbeda dengan novel, film tidak berkomunikasi dengan lambang-lambang yang tercetak pada media kertas, tetapi melalui lambang visual dan suara aslinya atau rekayasa.
Film hampir mengakomodasi sensasi dari seluruh panca indera manusia. Saat ini baru indera mata dan telinga yang dapat dinikmati dan beredar di masyarakat luas. Namun di sejumlah bioskop di luar negeri mulai diupayakan melepas aroma tertentu demi menunjang penghayatan dari sebuah cerita film. Selain itu juga dengan peralatan listrik dan komputer yang canggih, saat ini film dapat dinikmati dengan sensasi gerak dan raba.
Melakukan kegiatan analisa terhadap sebuah film tidak akan menghancurkan keindahan dan kemenarikan dari film tersebut. Walaupun pada masa awal film terdapat penolakan untuk menganalisa film oleh pihak tertentu, dengan alasan akan mengurangi rasa cinta terhadap objek yang dianalisa. Analisa yang dilakukan tidak perlu merusak rasa cinta kita kepada film, namun justru akan menguatkan dan bertahan. Oleh karenanya kegiatan menganalisa sebuah film kita sebut sebagai apresiasi film. Berasal dari kata “apreciate” yang artinya memberikan penghargaan atau menghargai.
Salah satu keuntungan dari menganalisa film adalah kita dapat mengawetkan pengalaman yang diberikan sebuah film dalam fikiran kita sehingga dapat kita simpan lebih lama dalam ingatan. Selain itu kita juga mendapatkan kesimpulan yang jelas tentang film tersebut. Jika kita sering melihat film dan menganalisanya maka kita akan lebih selektif dalam memilih film yang akan kita tonton dan kagumi. Kemampuan kita dalam menganalisa pun akan semakin meningkat dan tajam. 
Dalam kegiatan apresiasi film, ketika kita menonton film maka akan terjadi dua peristiwa pada diri kita. Pertama kita akan hanyut dalam cerita dan alur film dan pada saat yang sama kita harus mempertahankan tingkat obyektifitas dan daya kritis kita.
Begitu banyak dan cepatnya perkembangan cerita dalam sebuah film, sedangkan kita menginginkan sebuah analisa yang lengkap. Maka untuk sebuah film kita setidaknya  berusaha menonton minimal dua kali. Saat menonton yang pertama kita dapat menonton dengan cara biasa, kita tumpahkan semua perhatian pada unsur-unsur plot, pengaruh emosional secara menyeluruh dan ide atau tema pokok. Dan saat menonton yang kedua, biasanya kita tidak lagi terpukau kepada “apa yang terjadi”  dalam cerita film, maka kita dapat pusatkan perhatian pada “cara bagaimana” atau “mengapa” dari seni seorang pembuat film.
Bagaimana membuat cerita yang bagus?. Untuk sebagian besar orang yang baru terjun membuat naskah pasti merasa kesulitan. Namun berikut diuraikan kriteria-kriteria bagaimana membuat cerita yang bagus:
·         Dipersatukan dalam plot dan alur cerita.
Sebuah plot atau alur cerita yang disatukan dengan suatu urutan peristiwa dan kejadian yang berkesinambungan, dimana antara peristiwa satu dengan peristiwa lain terjadi secara wajar dan logis. Biasanya antara peristiwa-peristiwa tersebut merupakan suatu hubungan suatu sebab akibat yang kuat.
·         Masuk akal.
Seorang pembuat film dapat menciptakan sebuah cerita yang masuk akal/kebenaran dengan cara-cara sebagai berikut:
o   Kebenaran yang dapat dilihat secara lahiriah.
Kemiripan hidup seperti yang kita alami dan amati yang disampaikan secara nyata dan natural.
o   Kebenaran batin dari sifat manusia.
Film  jenis ini biasanya berakhir dengan happy ending. Dalam film ini orang-orang baik akan selalu menang dan yang jahat akan kalah. Dibuat demikian karena mengandung apa yang dinamakan “kebenaran batin” .
o   Kemiripan artistik dari kebenaran.
Cerita yang menjadikan sesuatu yang tidak masuk akal menjadi sesuatu yang dapat dipercayai.
·         Menarik.
Cerita film yang menarik adalah yang mampu mengikat perhatian penonton.
·         Ketegangan atau suspense.
Untuk mengikat dan mempertahankan perhatian biasanya dengan memunculkan rasa ingin tahu penonton. Rasa ingin tahu tersebut dapat menimbulkan ketegangan sehingga timbul dorongan yang membuat penonton mengituti arus jalan cerita secara terus-menerus.
·         Aksi atau gerak.
Aksi tidak terbatas pada gerak fisik saja seperti perkelahian, pertempuran, pengejaran, dll. Tetapi juga dapat berupa aksi batiniah atau emosional yaitu aksi berlangsung dalam fikiran.
·         Sederhana sekaligus kompleks.
Teknik yang digunakan oleh pembuat film yang merupakan perpaduan antara kesederhanaan dan kompleksitas. Mereka mengkomunikasikan cerita dengan cara sederhana, jelas dan langsung tetapi juga merangsang fikiran penonton.
·         Mampu menahan diri dalam mengolah materi emosional.
Kemampuan untuk menahan diri dalam mengolah emosi cerita serta tidak melebih-lebihkan diperlukan sehingga penonton tidak merasa termanipulasi. Bahan emosional yang berlebihan justru malah akan membuat reaksi penonton tidak sesuai dengan harapan pembuat cerita. Tetapi juga tidak boleh terlalu rendah (understatement), karena penonton akan merasa direndahkan. 
Judul memiliki arti penting bagi penonton sebelum menonton film. Namun setelah film ditonton maka arti judul biasanya berbeda, akan lebih kaya dan mendalam. Judul adalah sebuah pintu gerbang. Tertarik atau tidaknya penonton pada sebuah film bisa jadi dari judulnya.
Macam-macam sifat dan model dari judul :
§  Striking statement
Judul yang mengejutkan, yang biasanya bombastis dan sensasional.
§  Menggunakan nama tokoh utama.
Judul model ini sangat efektif untuk menarik perhatian penonton namun sudah dapat tertebak.
§  Ironi
Mengutarakan ide yang merupakan kebalikan dari arti yang hendak disampaikan.
§  Mengarahkan perhatian penonton pada sebuah adegan kunci.
Dengan demikian memikirkan kemungkinan arti sebuah judul film setelah menonton film adalah bermanfaat.
Tema berfungsi sebagai faktor dasar pemersatu film. Menentukan tema sering merupakan sebuah proses yang sulit. Kita tidak bisa mengharapkan tema akan diungkap secara jelas di pertengahan film. Biasanya setelah melihat keseluruhan film kita akan mengetahui tema dari film tersebut.
Penggunaan kata tema pada film, sama seperti penggunaan pada novel, drama atau puisi. Tema dapat berarti ide pokok, persoalan, pesan, atau suatu pernyataan yang mewakili keseluruhan. Namun dalam ruang lingkup film terutama yang berkembang di Amerika, tema diartikan sebagai persoalan pokok atau sebuah fokus dimana film dibangun. Dalam film, persoalan pokok atau fokus dapat dikategorikan sebagai berikut:
§  Plot sebagai tema.
Film yang dibangun dengan plot sebagai tema memberikan penekanan kepada peristiwa-peristiwa yang terjadi. Seperti misalnya film petualangan atau detektif, film-film seperti ini ditujukan memberikan kesempatan kepada kita untuk sejenak melarikan diri dari kebosanan dan kejemuan dari kehidupan sehari-hari. Kejadian dan aksi-aksi dalam film seperti ini harus mampu menggugah dan berlangsung cepat. Tokoh-tokoh, ide, dan efek emosional dari film ini ditentukan oleh plot. Dan yang terpenting dari film ini adalah hasil akhirnya.
§  Efek emosional/suasana sebagai tema.
Pada film ini menggunakan efek emosional/suasana yang sangat khusus sebagai fokus atau landasan struktural. Biasanya tidak terlalu sulit untuk mengenali suasana atau emosi utama yang menguasai seluruh film.
§  Tokoh sebagai tema.
Film dengan penggambaran suatu tokoh tunggal yang unik melalui akting dan dialog. Daya tarik dari tokoh ini terkandung dalam sifat dan ciri-ciri yang membedakan mereka dari orang-orang biasa. Tema film-film seperti ini dapat dikemukakan dalam pemaparan singkat dari tokoh utama, dengan memberikan tekanan pada aspek-aspek luar biasa dari kepribadian tokoh tersebut.
§  Ide sebagai tema.
Film yang mengangkat berbagai aspek kehidupan dan pengalaman atau keadaan manusia menjadi sebuah tema film. Terkadang sangat sulit menebak tema film jenis ini, namun dapat dilakukan dengan mengidentifikasi secara teliti subyek abstrak dari film tersebut dalam satu kata ataupun kalimat seperti misalnya: cemburu, kemunafikan, prasangka, dll.
§  Jika kita ingin mengembangkan penemuan tema terhadap film jenis ini, dapat dengan berpedoman pada kategori berikut:
o   Tema sebagai sebuah pernyataan moral. Film seperti ini memiliki maksud untuk meyakinkan kita tentang kebijaksanaan atau prinsip moral tertentu dan mengajak kita untuk menerapkan prinsip tersebut dalam tingkah laku kita.
o   Tema sebagai sebuah pernyataan tentang hidup. Film seperti ini memfokuskan diri pada penunjukan sebuah “kebenaran tentang hidup”. Selain itu juga memberikan komenar tentang fitrah pengalaman manusia atau penilaian tentang keadaan manusia. Umumnya film jenis ini mencoba menambah perbendaharaan baru pada pengertian kita tentang hidup tanpa memberikan suatu pernyataan moral yang khusus, tetapi dengan memberikan petunjuk-petunjuk.
o   Tema sebagai sebuah pernyataan tentang sifat manusia. Berbeda dengan film yang mengangkat tokoh sebagai tema dimana tokoh adalah seorang pribadi yang unik dan berbeda dari orang-orang biasa. Film ini justru menunjukkan sifat-sifat manusia yang universal dan mewakili sifat manusia secara umum.
o   Tema sebagai komentar sosial. Film ini ditujukan untuk membuat perubahan sosial.
o   Tema sebagai sebuah teka-teki moral atau falsafi. Film seperti ini berkomunikasi terutama melalui lambang-lambang dan citra-citra . Untuk penafsiran pada film jenis ini sangat bersifat subyektif.
Karakter tokoh yang kuat dan jelas akan membantu pencapaian kesan dari tema yang disodorkan. Apapun bentuk dan wujud tokoh itu, apakah dia seorang manusia, binatang, benda mati seperti kayu atau batu, wayang, kartun, semua harus dapat diterima dan logis.
Banyak cara untuk menggambarkan tokoh agar sesuai dengan tema yang dikemukakan. Yang pertama dapat dengan secara langsung diceritakan. Cara ini yang paling mudah namun memerlukan kejelian dalam mencari titik fokus penggambaran dan mencari kata-kata yang tepat untuk melukiskannya. Cara kedua adalah dengan dialog tokoh dengan lawan mainnya. Dari dialog dapat diketahui apakah tokoh temperamental, penyabar, pendendam, dll. Cara ketiga dapat dengan cara menggambarkan tingkah laku tokoh. Ketika dia bereaksi terhadap suatu stimultan, gerak-geriknya ketika melakukan sesuatu, tergambarkan dengan jelas.dan masih banyak cara lainnya. 
Jika kita tidak memperhatikan unsur-unsur yang paling manusiawi dalam sebuah film, atau tidak tertarik pada tokoh-tokoh dan karakter-karakternya maka kecil kemungkinan bahwa kita akan tertarik pada film itu sebagai suatu keseluruhan.  Supaya dapat menarik, tokoh-tokoh haruslah masuk akal, dapat difahami dan menonjol.
Karakterisasi dapat dilihat atau ditunjukkan melalui :
§  Penampilan, Karakter yang dapat direka dari penampilan fisik (kesan visual) dari seorang tokoh, seperti pakaian yang dikenakannya, perawakan tubuhnya, dll. Dari penampilan dapat diketahui kaya atau miskin, baik atau jahat, rapi atau lusuh, menarik atau tidak menarik, dll.
§  Dialog, Karakter yang direka dari kalimat-kalimat yang diucapkan saat tokoh berdialog dengan tokoh lain. Serta bagaimana cara tokoh tersebut berucap. Fikiran, sikap dan emosi tokoh terlihat dari cara memilih kata dan tinggi rendah intonasi.  Dari dialog dapat diketahui daerah asal, tingkat pendidikan, hobi dll.
§  Aksi eksternal, Karakter yang direka dari melihat bahasa tubuh tokoh. Apakah tokoh tersebut ceroboh atau tidak, kaku atau luwes, percaya diri atau tidak, dll.
§  Aksi internal, Karakter yang direka melalui aksi batin tokoh. Aksi batin ini berlangsung dalam fikiran dan emosi tokoh terdiri dari fikiran-fikiran yang tidak diucapkan, angan-angan, aspirasi, kenangan, ketakutan, fantasi dan harapan. Realitas batin dapat ditunjukkan melalui gambar atau suara kalbu sang tokoh, dengan kilasan-kilasan, dll.
§  Reaksi tokoh-tokoh lain, Apakah dia seorang terkenal atau biasa, disayang atau dibenci, dikagumi atau diremehkan, dll.
§  Nama tokoh, Dapat diketahui daerah asal tokoh. Apakah dia orang jawa atau bali, indonesia atau amerika, kota atau desa, dll.
§  Identitas tokoh, Apakah dokter atau guru, direktur atau kuli, pelajar atau pengangguran, dll.
Jika dalam suatu film tidak ada konflik maka tidak akan ada ceritanya. Konflik adalah sumber utama sebuah cerita. Unsur inilah yang mengikat perhatian kita saat menonton suatu film. Ada dua tipe konflik yaitu eksternal dan internal. Eksternal jika konflik tersebut melibatkan unsur lain dalam film dan internal jika terjadi hanya dalam diri tokoh. 

Alur dan Plot

Alur cerita atau yang sering kita sebut plot adalah bangunan sebuah cerita. Berbagai cara dapat dilakukan untuk membangun sebuah cerita.
·         Sirkuler
Sebuah plot cerita yang dimulai dari A dan kembali lagi ke A.
·         Linear
Sebuah plot cerita yang dimulai dari titik awal dan maju terus hingga titik akhir cerita.
·         Foreshadowing
Sebuah plot yang bercerita tentang kejadian yang akan terjadi di masa datang, loncat pada kejadian lain dan pada penutup bercerita kembali tentang kejadian yang sudh diceritakan di depan.
·         Flashback
Menceritakan kejadian di masa lampau.
Untuk membangun struktur sebuah cerita yang menarik maka dapat dihadirkan suspens atau kejutan. Dapat berupa kejutan yang sederhana ataupun yang mampu mengembangkan rasa penasaran penonton. Suspens yang terpelihara dengan baik dapat mengukuhkan struktur dramatik sebuah cerita.
Struktur dari sebuah cerita dapat terdiri dari:
·         Eksposisi, memberikan gambaran selintas mengenai cerita yang akan terjadi, tokoh yang memerankan, dll.
·         Konflik, saat dimana tokoh mulai terlibat dalam suatu permasalahan.
·         Klimaks,  puncak dari pokok permasalahan
·         Resolusi, pemecahan permasalahan.
Setting adalah waktu dan tempat dimana cerita sebuah film berlangsung. Setting pada umumnya merupakan unsur yang paling berpengaruh pada unsur lain seperti tema, visual efek, kostum, dll.
Empat  faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan setting :
§  Faktor temporal (waktu), masa saat cerita itu terjadi.
§  Faktor geografik, tempat dimana cerita terjadi.
§  Faktor ekonomi yang berlaku saat itu.
§  Faktor adat dan budaya yang berlaku saat itu.

Musik dalam film sangat berperan dalam menciptakan suasana atau mood sebuah  film. Dari musik yang ada pada film kita dapat mengetahui apakah film itu bernuansa ceria, sedih, mencekam, menegangkan, lucu dan sebagainya. Ada beberapa fungsi  musik dalam film, antara lain :
§  Musik tema atau Theme music, Musik yang menggambarkan watak atau suasana keseluruhan suatu film. Musik tema sering digunakan sebagai musik pengenal. Dengan demikian setiap kali kita mendengar musik tertentu, kita akan tahu atau ingat film apa yang sedang diputar.
§  Musik transisi, Musik yang menghubungkan dua adegan. Durasinya tidak perlu panjang dan disesuaikan dengan suasana film.
§  Musik jembatan atau Bridge, Musik yang menjembatani dua adegan dengan suasana yang berbeda. Misalnya adegan yang sedih diikuti adegan gembira maka musik yang digunakan adalah musik dengan suasana gembira.
§  Musik latar belakang atau background musik, Musik yang mengiringi adegan yang sedang berlangsung. Tujuannya agar adegan yang berlangsung dapat lebih meresap ke hati penonton. Musik pengiring berupa musik instrumentalia, suaranya tidak boleh terlalu keras sehingga dialog tidak terdengar oleh penonton.
§  Musik smash, Musik yang digunakan untuk membuat kejutan atau tekanan. Biasanya terdapat pada film tegang atau horror.
Selain fungsi-fungsi diatas masih terdapat fungsi lain yaitu:
§  Untuk menutupi kelemahan dalam sebuah film
§  Untuk menciptakan efek damatik atau efek dialog.
§  Untuk mendukung kisah batin.
§  Untuk memberikan kesan waktu dan tempat.
§  Untuk membayangkan peristiwa yang akan terjadi.
§  Untuk membina ketegangan dramatik.
§  Untuk menambah arti pada kesan visual.
Penulisan penyajian musik dalam naskah :
§  IN – UP – NORMAL – DOWN – OUT
Musik masuk, meninggi ke arah normal kemudian menurun dan hilang.
§  IN – UP – UNDER – DOWN – OUT
Musik masuk, meninggi ke arah under (setengah dari normal) kemudian menurun dan hilang.
§  IN – UP – DOWN – OUT
Musik masuk dan hilang.
§  IN – UP – UNDER
Musik masuk dan menjadi background.
Untuk bisa menghasilkan suara yang baik diperlukan jenis mikrofon  yang tepat. Jenis mikrofon  yang akan digunakan dipilih yang mudah dibawa dan peka terhadap sumber suara, tetapi harus mampu meredam gangguan suara dari luar.
Beberapa petunjuk yang harus diperhatikan dalam mempersiapkan dan memilih mikrofon :
§  Dekatkan mikrofon yang akan digunakan dengan sumber suara dan perhatikan arah mikrofonnya
§  Hati-hati dan  perhatikan saat pemasangan mikrofon supaya tidak ada suara yang tidak diperlukan masuk kedalam daya tangkap mikrofon dan jangan lupa gunakan windscreen, untuk keperluan menutup suara akibat dari gangguan angin.
§  Perhatikan pula kemungkinan timbulnya gema didalam ruangan, disarankan agar lebih baik mengikuti gerakan sumber suara, untuk keperluan ini gunakan jenis mikrofon dengan poleboom atau fishpole.
§  Untuk tempat yang banyak gangguan suara gunakan jenis mikrofon unidirectional, karena jenis ini hanya dapat menangkap suara dari satu arah saja, sedangkan untuk lokasi yang tenang dapat digunakan jenis nondirectional, karena jenis ini dapat menangkap suara dari segala arah.
Tata cahaya sama pentingnya dengan tata kamera dan teknik-teknik khusus yang lain. Dengan mengendalikan intensitas cahaya, arah dan tingkat pemancaran cahaya,  seorang sutradara dapat menciptakan kesan ke dalam ruang, menegaskan dan membentuk sosok serta menyampaikan suasana emosional. Oleh karena itu, cara penyinaran sebuah adegan merupakan faktor penting dalam menentukan apakah secara dramatik  penyinarannya efektif atau tidak.
Ada dua istilah yang dipergunakan untuk membedakan intensitas cahaya:
Tata pencahayaan dimana sebagian besar set berada dalam lingkupan bayang-bayang, sedangkan subyek didefinisikan oleh beberapa penyinaran tinggi.  Tipe ini cocok untuk memperdalam ketegangan atau menciptakan suasana murung dan sering digunakan dalam film misteri atau horor.
Tata pencahayaan dimana lebih banyak memperlihatkan bagian-bagian yang cerah dibanding dengan bagian yang diliputi bayang-bayang, sedangkan subyek terlihat dalam warna separuh kelabu dan cerah, dengan kontras cahaya yang jauh lebih kecil.  Tipe ini cocok untuk film komedi dan film-film ringan seperti musikal.
Adegan-adegan dengan pencahyaan kontras, dengan perbedaan ruang liput bagian yang gelap dan cerah yang luas sekali, lebih menghasilkan gambar yang lebih kuat dan dramatik dibanding dengan yang disinari secara merata.
Arah cahaya juga memainkan peranan penting dalam menciptakan citra visual. Penyinaran dari atas menciptakan efek yang sangat berbeda dengan penyinaran dari samping.  Penyinaran dari belakang  juga menghasilkan efek berbeda dengan penyinaran dari depan.
Terdapat tiga karakter atau sifat cahaya:
§  Cahaya yang kuat, langsung dan tajam
§  Cahaya menengah dan seimbang
§  Cahaya yang berpencar dan lunak
Untuk detailnya jika ada request akan dibahas ditulisan berikutnya.

Sedikit Ringkasan

§  Melakukan kegiatan analisa terhadap sebuah film tidak akan menghancurkan keindahan dan kemenarikan dari film tersebut.
§  Salah satu keuntungan dari menganalisa film adalah kita dapat mengawetkan pengalaman yang diberikan sebuah film dalam fikiran kita sehingga dapat kita simpan lebih lama dalam ingatan.
§  Dalam kegiatan apresiasi film, ketika kita menonton film maka akan terjadi dua peristiwa pada diri kita. Pertama kita akan hanyut dalam cerita dan alur film dan pada saat yang sama kita harus mempertahankan tingkat obyektifitas dan daya kritis kita.
§  Jika kita tidak memperhatikan unsur-unsur yang paling manusiawi dalam sebuah film, atau tidak tertarik pada tokoh-tokoh dan karakter-karakternya maka kecil kemungkinan bahwa kita akan tertarik pada film itu sebagai suatu keseluruhan.

Bahan Baca

Asura, Enang Rokajat. 2005. Panduan Praktis Menulis Skenario dari Iklan sampai Sinetron. Yogyakarta: ANDI.
Bordwell, David & Thompson, Kristin. 2004. Film Art, An Introduction. New York: Mc Graw Hill.
Mangunhardjana, A Magija. 1976. Mengenal Film. Yogyakarta: Kanisius.
Nelmes, Jill. 2000. An Introduction to Film Studies. New York: Routledge.
Sani, Asrul. 1986. Cara Menilai Sebuah Film (terjemahan dari The Art of Watching Film oleh Joseph M. Boggs). Jakarta: Yayasan Citra.
Selengkapnya... »»